Archive for Paradoks

[Seri Akhir Zaman] Paradoks 2

Posted in Akhir Zaman, Bahasa Indonesia, Islamic Holy Spirit with tags , , , , on March 27, 2015 by Yul Prince Vartan Hyzhar

Mendamba “Surga” Menuai “Neraka”

SIAPA yang tak mendambakan kehadiran keluarga yang harmonis dan romantis? Siapa yang tak ingin setiap waktu berlalu senantiasa dihiasi dengan rasa cinta dan kasih sayang? Siapa yang tak ingin bila ada problematika keluarga, langsung bisa diatasi dengan suasana cair dan bersahabat? Siapa yang tak mengharap bila ada api kemarahan yang membakar, langsung didapatkan kesejukan air yang memadamkan? Siapa yang tak ingin jika semua putra-putrinya menjadi penyejuk jiwa dan permata hatinya? Siapa yang tak harap jika semua anggota keluarganya menjadi ahlul Qurân ? siapa yang tak mendamba hadirnya sakinah-mawaddah-rohmah dalam hidupnya?

Tak diragukan lagi, siapa saja pasti mendambakan itu semua. Siapa saja pasti berharap suasana “surga dunia” ada di rumahnya. Namun, mungkinkah dan kapankah hal itu bisa terwujud? Bisa jadi upaya menggapai keharmonisan keluarga bak pungguk merindukan bulan –hanya sekedar impian kosong yang tak kunjung tiba-. Sebenarnya harapan itu semuanya  bukanlah khayalan dan fatamorgana. Bukan pula angan-angan autis yang jauh menerawang. Tidak perlu pula bersikap underestimate dalam upaya meraihnya.

Sungguh disayangkan, sebagaian besar orang berusaha untuk mewujudkan keluarga surgawi dengan cara bersungguh-sungguh dalam menumpuk kekayaan dunia yang fana, namun yang terjadi justru kebahagiaan keluarga sering menjadi “tumbal”. Hal ini dipicu karena adanya anggapan yang keliru bahwa kekayaan materi adalah kunci kebahagiaan keluarga. Padahal dalam kenyataan tidak demikian. Betapa banyak orang yang bergelimang harta namun keluarganya berantakan. Sebaliknya, tidak sedikit keluarga yang tak berkecukupan namun  rumah tangganya bernuansa “surga.”

Seringnya kita lalai bahwa ketinggian asa dan cita yang diharapkan haruslah diimbangi dengan besarnya usaha dan mujahadah untuk mewujudkannya. Sering kita berdoa : رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Namun sehari-hari keributan rumah tangga seakan-akan telah menjadi tradisi. Tidak ada yang salah dalam untaian doa itu, yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana kita berupaya merealisasikannya. Harapan untuk mendamba surga sering kali tak diiringi amalan-amalan surgawi, justru amalan yang terjadi adalah  bertolak belakang dengan cita-cita, maksud hati mendamba “rumahku surgaku” namun yang terjadi adalah “rumahku nerakaku” –wal’iyaadzu billah-.

Cinta berhias durhaka

Awal menjalin hubungan cinta merupakan garis start penentu arah dalam pembinaan rumah tangga. Akankah rumah tangga yang dibina menuju keridloan Allah ataukah kemurkaan-Nya. Namun sering kali awal permulaan ini dianggap bukan suatu hal yang penting dan sering kali diremehkan.

Sering kali kita dapati bahwa banyak yang menjalin cinta dengan cara pacaran. Bahkan di era globalisasi saat ini pacaran telah membudaya dan menjadi bagian hidup kaum muda. Tak ketinggalan pula kalangan orang tua juga turut berpartisipasi dalam memasyarakatkannya. Sering mereka latah dengan ungkapan Tanya kepada anak muda yang dijumpainya : “Sudah punya pacar apa belum?”.

Mereka berdalih bahwa pacaran adalah ajang untuk saling kenal dan memahami calon “pasangan”. Dengan pacaran, kadar kedalaman cinta “sang calon” bisa diukur dan diuji. Berangkat dari alasan inilah, kita dapati banyak kaula muda yang berpacaran sudah bertahun-tahun namun juga belum menikah.

Padahal, jika kita perhatikan dan amati, pacaran merupakan ajang saling menipu dan berbohong. Pacaran adalah sebuah dusta atas nama cinta. Bagaimana tidak? Hal itu bisa dibuktikan bahwa tatkala janjian kencan, masing-masing pihak berupaya untuk menghias diri dengan hiasan yang sebenarnya tidak mencerminkan jati dirinya yang sesungguhnya. Tidak jarang mereka memakai “topeng” dalam rangka menutupi kekurangan-kekurangan dirinya. Ditambah lagi, obral janji-janji kosong dan kata-kata manis yang sering menjadi hiasan pembicaraan ketika kencan.

Mereka pun beranggapan bahwa dengan pacaran pula kekurangan-kekurangan dari “sang calon” dan ketidak-cocokan darinya bisa terkuak. Padahal jika disadari, mana ada orang yang tidak memiliki kekurangan, mana ada orang tidak luput dari ketidak-cocokan dengan orang lain, apakah setiap orang dalam setiap saat bisa berserasi dengan yang lain? Tentu ini adalah perkara yang mengada-ada.

Tidak sadarkah mereka kalau pacaran adalah muqoddimah dari perbuatan zina? Tidakkah mereka sadar bahwa di saat berduaan maka syaithonlah yang menjadi teman mereka? Rosululloh -صلى الله عليه وسلم- bersabda :

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطُانُ

“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita melainkan pihak ketiganya adalah syaithon”. (HR. Tirmidzi)

Kalau syaithon telah menjadi pihak ketiga bagi mereka, lalu apa kiranya yang hendak ia sarankan untuk mereka yang sedang berduaan? Tidak lain dan tidak bukan adalah mengambil kesempatan untuk mengajak sesuatu yang “lebih berani” dari sekedar berduaan. Mulai dari kata-kata manis, berlanjut dengan saling bergandengan tangan, kemudian berpelukan, dan seterusnya. Hingga akhirnya mereka terbawa ke lumpur dosa zina. Oleh karenanya, Allah ta’ala telah mengharamkan segala perbuatan yang menjurus kepada zina dengan firman-Nya :

﴿وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا﴾

“Dan janganlah kalian mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (Al Isro’ : 32)
Hakikatnya semua yang dilakukan ketika pacaran adalah rangkaian zina yang diharamkan. Sebagaimana sabda Nabi -صلى الله عليه وسلم- :
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas anak adam bagian dari (dosa) zina, dirinya pasti mendapatinya, maka zinanya mata adalah memandang, zinanya lisan adalah berbicara, dan nafsu berangan-angan serta berkeinginan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya”. (HR. Bukhori)

Setelah keduanya bisa saling “menikmati”, ternyata belum tentu juga membawa jalinan cinta mereka menuju jenjang pernikahan. Bahkan ketika salah satu dari keduanya merasa bosan, maka dengan semena-menanya mencampakkan yang lain dan menganggap hubungan cinta di antara mereka berdua telah putus. Inilah kejahatan pacaran yang sesungguhnya.

Bagi mereka yang “berhasil” melanjutkan pacaran ke jenjang pernikahan beranggapan bahwa pernikahan yang mereka lalui dan kehidupan rumah tangga yang akan dijalani terasa semakin mesra dan harmonis. Padahal yang terjadi adalah rasa hambar dan kebosanan dikarenakan mereka telah bergaul sekian lama. Mereka memandang pasangan mereka tak ubahnya seperti teman sendiri yang telah dikenal.

Kalaupun mereka masih merasakan kemesraan, tentunya kemesraan yang dibangun atas dasar jasmani semata. Sementara ketika umur telah memudarkan kecantikan dan ketampanan mereka, saat itu pula benang-benang cinta pun mulai memudar. Inilah kemesraan yang semu.

Lebih dalam lagi, ketika kita menyadari, bahwa memulai rumah tangga dengan pacaran adalah seperti halnya memulai amalan yang mulia dengan amalan yang hina. Hakikatnya jalinan cinta ternodai dengan zina. Maka bagaimana mungkin sakinah-mawaddah dan rohmah akan senantiasa menghiasai rumah tangganya, sementara ibadah yang agung nan sakral diawali dengan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Sang Kholiq. Inilah cinta yang berhias durhaka. -wallaohul musta’aan-

Sayang tapi mencelakakan

Dalam kehidupan berumah tangga, terkadang kita terlalu berlebihan dalam mengungkapkan kasih sayang. Dalam ungkapan lain, sering kita berlaku sayang tidak pada tempatnya. Ungkapan sayang yang diberikan hanyalah kasih sayang yang semu.
Kasih sayang yang tidak berlandaskan ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya.

Hal itu nampak tatkala rasa sayang kita kepada istri atau sebaliknya kepada suami atau bisa juga kepada anak menjadi penghalang untuk menunaikan kewajiban dan menjalankan ketaatan. Sebagai contoh dalam hal ini adalah terkadang kita merasa iba dan belas kasihan kepada anggota keluarga untuk dibangunkan di penghujung malam (waktu shubuh) demi menjalankan perintah sholat.

Dalam kenyataan lain, ungkapan sayang yang memanjakan terkadang menjadikan diri kita orang yang lebih mencintai anggota keluarga kita dari pada cinta kepada Allah dan Rosul-Nya. Sementara Rosululloh -صلى الله عليه وسلم- bersabada berkenaan dengan karakteristik orang yang mendapat kesempurnaan iman dan kelezatannya :

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار

“Tiga perkara yang barang siapa tiga perkara ini ada padanya, ia mendapatkan manisnya iman : menjadikan Allah dan Rosul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya, mencintai seseorang karena Allah dan membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke neraka”. (HR. Bukhori)

Tidakkah kita teringat kepada peringatan Nabi Muhammad -صلى الله عليه وسلم- kepada sahabatnya yang mulia Umar bin Khotthob  -رضي الله عنه- tatkala beliau berkata : “Wahai Rosululloh, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku”. Lalu Nabi -صلى الله عليه وسلم- menjawab : “Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai dari pada dirimu”. Kemudian Umar  -رضي الله عنه- menjawab : “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri”. Nabi -صلى الله عليه وسلم- menimpali : “apakah baru sekarang, waha Umar?!” (HR. Bukhori)

Sering pula ungkapan sayang yang keluar dari diri kita terhadap salah satu anggota keluarga kita menjadi sebab masuk ke neraka. Sebagai contoh dalam masalah ini ketika kita memberikan kebebasan kepada istri untuk bersolek dan menampakkan keindahan tubuhnya kepada orang lain dengan berdalih bahwa apa yang dibebaskan adalah rasa kasih sayang kepada istri. Padahal bila dipikirkan sejenak, hal ini adalah bagian dari tindakan dayuts (tidak ada kecemburuan), sementara Rosululloh -صلى الله عليه وسلم- bersabda :

لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ دَيُّوْثٌ وَلاَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَلاَ رَجُلُةُ نِسَاءٍ

“Tidak masuk surga laki-laki dayuts, tidk pula para pecandu khomer dan tidak masuk surga pula wanita berperilaku laki-laki”. (HR. Abdur Rozaq)

Terkadang pula kita membiarkan anak gadis kita keluar rumah tanpa menutup aurat (tidak berjilbab). Berdalih sayang kepadanya karena ia masih muda dan ingin seperti teman sebayanya yang menikmati keceriaan usia remaja, sayang kalau nantinya ia tidak bisa bergaul sebagaimana temannya lain. Tentunya ini adalah kasih sayang yang menyesatkan, kasih sayang yang berujung pada murka Allah, karena telah meninggalkan perkara yang diwajibkan oleh Robb semesta Alam.

Kondisi yang lebih parah lagi tatkala kita menghalangi suami atau anak kita untuk bersama turut serta dalam amar ma’ruf-nahi munkar, berdalih dengan rasa sayang terhadap mereka agar mereka tidak mendapatkan resiko ataupun ancaman-ancaman buruk yang bisa menimpa mereka. Padahal rasa sayang seperti ini adalah bagian dari hembusan syaithon untuk menghalang-halangi seseorang memberikan loyalitas sepenuhnya kepada Allah dan Rosul-Nya.

Hendaknya kita menauladani sosok wanita mulia yang bernama Khonsa’  -رضي الله عنه- yang dengan rasa kasih sayangnya, beliau telah berhasil menghantarkan putra-putranya meraih gelar syuhada’ dalam peperangan Qodisiyah. Tatkala berita gugurnya keempat anaknya sampai ke telinga Khonsa’, ia justru berucap; “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya”.(Al Istî’â fî ma’rifatil ashĥâb, juz 2 hal 90-91)

Demikianlah kasih sayang yang sesunguhngya. Kasih sayang yang mengungkapkan ketidak-relaan jika anggota keluarganya keluar dari ketaatan menuju kemaksiatan. Bukan dikatakan sayang, jika akhirnya berujung pada murka Allah dan jilatan panas api neraka.

Mendidik tapi sering menghardik

Tidak dipungkiri bahwa pendidikan keluarga merupakan instrument terpenting dalam mewujudkan “rumahku surgaku”. Orang tua dalam hal ini memiliki peranan sentral dalam membentuk kepribadian putra-putrinya menjadi pribadi-pribadi mukmin-mukminah yang berkarakter.

Namun sering pula langkah dan usaha kita dalam mendidik mereka bertolak belakang dengan cita-cita yang didamba. Sering kali orang tua hanya bisa menuntut kebaktian sang anak, namun belum pernah ia sampaikan makna berbakti. Sering pula orang tua menuntut untuk ditaati, namun sering pula mereka mengajarkan untuk saling mengkhianati. Sering pula berdalih mendidik, namun hakikatnya hanya sekedar menghardik. Sering pula menuntut ketaatan, namun belum pernah memberikan tauladan.

Sering kali kita mengharap istri kita sholihah, namun tak pernah kita ajarkan hakikat syahadat. Sering pula kita mendamba suami yang ‘alim dan bisa menjadi pembimbing keluarga, namun yang terjadi justru disibukkan dengan tuntutan materi sehingga nyaris tidak ada waktu untuk tholabul ‘ilmi. Sering pula kita mengharap anak-anak pandai mengaji dan menjadi ahlul qurân, namun seringnya kita bekali mereka dengan music dan kebendaan.

Dalam kenyataannya, banyak di kalangan kita yang lebih bangga kalau anaknya jago matematika meskipun tidak bisa membaca Al Qurân. Terkadang pula kita lebih memprioritaskan pendidikan umum dari pada pendidikan agama. Padahal, jika diamati dan diperhatikan pendidikan agama jauh lebih penting dari pada sekedar pendidikan umum yang hanya bersifat lifeskill atau hanya wawasan intelektualitas semata. Karena sesungguhnya pembangunan karakter dan kepribadian baik adalah bersumber dari pendidikan agama.

Betapa banyak contoh di masyarakat yang memiliki IQ tinggi dan  berprestasi dalam akdemiknya namun berkarakter dan berkepribadian lemah. Sehingga mudah sekali tergelincir dalam kemaksiatan. Hal itu diakibatkan lemahnya tarbiyah rûhiyah yang menjadi penompang akhlaq sekaligus menjadi penimbang baik-buruknya suatu perbuatan.

Dengan mendidik anggota keluarga, diharapkan agar mereka mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajiban setiap individu. Sehingga terciptanya suasana yang menjunjung tinggi hak-hak orang lain. Dengan demikian, interaksi dalam internal keluarga berjalan dengan baik.

Dari sini, sudah bisa dipastikan bahwa pembentukan angota keluarga yang berkarakter mukmin-mukminah menjadi dasar dari terwujudnya baiti jannati. Tanpa tarbiyah keluarga rasanya impian menghadirkan sakinah-mawaddah-rohmah adalah menjadi impian kosong. Tanpany pula, dambaan hadirnya kerdihoan Ar Rohman di tengah kehidupan berumah tangga berubah menjadi laknat, keharmonisan berubah menjadi pertikaian dan bisa jadi harapan mendapat surga berubah menjadi ancaman siksa neraka –wal’iyâdzu billah-

Semoga Allah ta’ala memberikan taufiq dan hidayah-Nya agar kita bisa memikul tanggung jawab membina keluarga menjadi keluarga berkarakter Islam. Wallohu a’lam.

***

Sumber: Islampos.com

Akhir-Zaman-copy

[Seri Akhir Zaman] Paradoks 1

Posted in Akhir Zaman, Bahasa Indonesia, Islamic Holy Spirit, Spiritualism with tags , , , on March 27, 2015 by Yul Prince Vartan Hyzhar

Paradoks dan Neraca Akhir Zaman

SAHABATKU Fiddin, kita benar-benar hidup di akhir zaman. Ada dua hal yang menonjol di akhir zaman ini. Pertama, semua hal sdudah jadi paradoks. Kedua, neraca sudah terbalik.

Paradoks dapat kita lihat dalam banyak hal. Antara keyakinan/iman/niat dan amal perbuatan. Antara keinginan dan upaya. Antara doa dan ikhtiyar. Ingin masuk syurga, tapi keyakinan atau amal perbuatannya (keyakinan/amal) penghuni neraka.

Mengaku Tuhannya Allah, tapi menyekutukan-Nya dengan berbagai tuhan tandingan lainnya. Mengaku mencintai Allah dan Rasulullah, tapi durhaka atau tidak taat pada-Nya dan Rasul-Nya.

Mengaku Kitab Petunjuknya Al-Qur’an, tapi tidak dibaca, tidak dipahami dan tidak diamalkan.Mengaku beragama Islam, tapi jalan hidup yang tempuh jalan Yahudi atau agama lainnya, dan tak jarang pula ikut menyerang dan memarjinalkan Islam dan umatnya. Mengaku jadi Da’i (juru dakwah), tapi mengajak manusia ke neraka.

Mengaku muslim, tapi tidak shalat fardhu dan tidak juga mengamalkan kewajiban-kewajiban Islam lainnya. Mengaku mukmin, tapi ucapan dan perbuatannya menyakiti saudara Mukmin lainnya, dan bahkan membunuhnya tanpa jalan yang hak.

Demikian juga di akhir zaman ini neraca sudah terbalik. Yang hak bisa jadi batil. Yang batil bisa jadi hak. Yang halal sudah jadi haram. Yang haram sudah jadi halal. Yang baik bisa jadi buruk. Yang buruk sudah jadi kebaikan. Suami jadi istri. Istri jadi suami. Anak sudah jadi bos orang tua. Orang tua sudah jadi pembantu anak.

Di akhir zaman ini, kemuliaan tidak lagi didasari iman, ilmu dan taqwa, namun diukur dengan harta, pangkat, ketampanan maupun kecantikan dan jumlah pengikut. Yang kaya sudah jadi pelit. Yang miskin menjadi sombong. Yang berilmu sudah jadi tinggi diri. Yang bodoh merasa banyak ilmu.

Kaum cerdik pandai sudah jadi tukang tipu. Pemimpin atau penguasa sudah jadi raja dan tak jarang mengaku sebagai Tuhan, kendati tidak diucapkan sebagaimana Fir’aun dahulu, yang setiap saat harus ditaati, kendati bertentangan dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Allahul musta’an.

Yaa Rabb, janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau anugerahkan pada kami petunjuk-Mu dan anugerahkan pula pada kami dari sisi-Mu Rahmah (Kasih Sayang-Mu) serta berikanlah kepada kami kecerdasan dalam menjalankan kehidupan yang sementara ini.

***

Sumber: Islampos.com

renunganpsd

Paradoks 2

Posted in Bahasa Indonesia, Motivation, My Songs, Philosophy, Psychology, Puisi, Revolution, Spiritualism with tags , , , , , on May 31, 2013 by Yul Prince Vartan Hyzhar

************************************************************

Paradox triangle 

************************************************************

Sebuah kerinduan pada idealisme mencengkeram hatiku…

Namun itu bagaikan pertanyaan belum terjawab…

… atau kenyataan yang belum terealisasi…

 

Aku membutuhkan udara segar lebih banyak lagi…

Dan kucoba mengeluarkan kepalaku dari jendela ini…

Namun, hanya terpaan keras angin pada wajah itulah yang kudapatkan…

Aku membutuhkan sebuah ruangan yang cerah dan terang…

Dan kucoba menambahkan beberapa lampu…

Namun, nyala lampu-lampu itu hanya membuatku begadang lebih larut…

Aku menginginkan sebuah gaya baru dalam berbusana…

Dan, kucoba memakai pakaian yang paling eksentrik…

Namun, itu hanya membuatku terlihat ekstrem dan menakutkan…

Aku ingin menyenangkan diri…

Dan, kucoba  mencuci otakku…

Namun, itu hanya membuatku menjadi seorang hedonis sejati…

 Aku ingin membuatmu bahagia…

Dan, kucoba membangkitkan senyummu…

Namun, itu hanya membuatku menjadi cemburu pada senyum manismu…

Aku ingin melihat kamu beraksi di atas panggung…

Dan, kucoba menyuruhmu bernyanyi…

Namun, itu hanya membuatmu bertambah malu…

Aku tidak ingin bermain di panggung huru-hara…

Dan, kucoba mengendalikan emosi yang labil ini…

Namun, ketololanku merusak niat baik ini…

 

Kutanyakan pada mereka dimana idealisme itu berada…

Namun mereka seakan lebih tidak peduli pada pertanyaanku…

… bahkan mereka tidak peduli pada idealisme mereka sendiri…

Oh, inikah dunia paradoks yang selalu berada di luar jangkauan itu?

Ya, kurasa ini adalah dunia itu…

… dunia yang selalu berada di luar jangkauan…

… aku hanya bisa melihat ia melayang…

… berputar-putar mengelilingiku…

Tiba-tiba aku sadar, ini adalah bagian dari setiap proses kehidupan…

Ini juga adalah kuasa Tuhan…

Dan, aku bersyukur karena Dia telah memberiku kesempatan…

Karena aku masih ingin mempelajari lebih dalam…

… tentang dunia paradoks itu…

*******

 

(Paradoks, Dunia, Hasrat, Idealisme, Renungan, dan Introspeksi: Yogyakarta, 2 Maret 2012)

Paradox Relativity

Sebuah Canda Hedonisme

Posted in Bahasa Indonesia, Opinion, Philosophy, Puisi with tags , , , , on May 31, 2013 by Yul Prince Vartan Hyzhar

 ****************************************************************

joke

****************************************************************

Dia pasti sedang mencandaiku…

Ia bertingkah seolah baik-baik saja…

Dan, ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja…

Namun, aku tahu bahwa itu semua hanyalah kepalsuannya yang nyata…

 

Dia pasti sedang mencandaiku…

Berpura-pura ia telah mendapatkan ketenangan…

Namun, bagaimana mungkin kehidupannya dapat berjalan damai…

Jika iblis dan setan selalu bersemayam dalam pikirannya…

Ia pun ingin menikmati kesenangan-kesenangan semunya…

… mencari kegilaan-kegilaan bodohnya…

Menghirup udara hedonismenya…

Menulis syair-syair indah namun penuh tipuannya…

 

Ya, aku tahu ia hanyalah seorang bajingan…

… bajingan yang beruntung…

Ia memang bahagia…

Namun, ia lebih sering merasa hampa…

Ia memang melihat…

Namun, ia lebih sering menjadi buta…

Ia memang mendengar…

Namun, ia lebih sering menjadi tuli…

Ia memang merasakan…

Namun, ia lebih sering kehilangan kesadaran…

Ia memang sederhana…

Namun, ia lebih sering berfoya-foya…

Ia memang membaca…

Namun, ia lebih sering tidak memahami…

Ia memang pendiam…

Namun, ia lebih sering berhuru-hara…

Ia memang waras…

Namun, ia lebih sering menjadi gila…

 

Dia pasti sedang mencandaiku…

Ia bertingkah seolah baik-baik saja…

Dan, ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja…

Namun, aku tahu bahwa itu semua hanyalah kepalsuannya yang nyata…

Oh Tuhan, betapa aku tidak ingin seperti dirinya…

*******

 

(Renungan, Canda, Hedonisme, Paradoks, dan Introspeksi : Yogyakarta, 25 April 2012)

Paradoks 1

Posted in Bahasa Indonesia, Motivation, Philosophy, Psychology, Puisi, Revolution, Spiritualism with tags , , on May 31, 2013 by Yul Prince Vartan Hyzhar

*****************************************************

paradox 

*****************************************************

Barangkali aku sudah banyak belajar…

Namun, sayangnya aku tidak selalu mengembangkan…

Dan, disanalah kebenaran tertahan…

 

Aku sadar itu bukanlah suratan takdir…

Bukan juga sebuah fenomena alam…

Aku memang tidak pernah mempercayainya…

Namun, iblis membuat mataku seolah-olah tertutup…

Langit biru nan cerah sedang menantiku…

Namun, aku pergi menjelajah ke dalam dunia yang lebih gelap…

Hembusan lembut angin pantai menunggu untuk membelaiku…

Namun, aku berenang dalam pusaran banjir sampah nafsu sesaat…

Oh,… begitu menggiurkan…

Namun, ia tak pernah bisa melepas dahaga…

Di saat akar kebutuhan sudah tumbuh dan berkembang jauh…

Aku masih terperangkap oleh hal-hal berderajat rendah…

Oh, betapa perjuangan yang sering naïf dan tidak relevan…

Pencerahan sistem individu dan sistem sosial yang mengabur dan menguap…

Karena sisi iblis telah mencabik efisiensi kehendakku…

Pencerahan terhadap kebenaran yang dikotori oleh sampah hedonisme…

Pencerahan terhadap kebenaran yang dinodai kapitalisme…

Pencerahan terhadap kebenaran yang dicederai konsumerisme…

Pencerahan terhadap kebenaran yang dibodohi apatisme…

Pencerahan terhadap kebenaran yang diperkosa libidoisme…

Oh, betapa definisi kebenaran yang menjadi kabur…

Padahal kita semua sedang dinanti kubur…

Oh, dimanakah udara segar itu, Kawan?

Oh, betapa kontradiksi antara malaikat dan iblis yang tidak menyenangkan…

Pengejawantahan dari beberapa paradoks yang ganjil…

Seperti persepsi yang saling mempengaruhi dan menekan…

Malaikat berkata, “Malulah kalian karena malu itu sebagian dari iman”

Sementara iblis berkata, “Jangan terlalu perturutkan rasa malu kalian karena itu malu itu kemalangan… Hahaha!”

 

Barangkali aku sudah banyak belajar…

Namun, sayangnya aku tidak selalu mengembangkan…

Dan, disanalah kebenaran tertahan…

Apakah kekuasan kehendakku telah dikuasai oleh oleh kekuasan kebutuhanku?

Ah, aku masih mencari jawabannya, Kawan…

*******

 

Puisi ini sebagai sebuah hadiah ulang tahun dariku untuk diriku dan orang-orang terdekatku

(Paradoks, Renungan, dan Introspeksi, : Yogyakarta, 21 Maret 2012)

Paradoks, Romantika, dan Selingan (Intro)

Posted in Bahasa Indonesia, Literary, Opinion, Philosophy, Puisi with tags , , , , , , , , , , on May 30, 2013 by Yul Prince Vartan Hyzhar

**********************************************************

square-paradox

*****

Jika kau menanyakan padaku hal apa yang paling sukar kutaklukkan, jawabannya adalah diriku sendiri.

*****

Kemenangan sistem kehidupan yang kau lalui pada hakikatnya adalah kemenangan sistem spiritualitas dirimu sendiri.

*****

Kebosanan itu terkadang lebih kejam dari penderitaan fisik. Bahkan kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mulia itu ditelan oleh kebosanan.  Bahkan pekerjaan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mulia itu hancur oleh tirani kebosanan.

*****

Semesta mempunyai kecepatan…

Jangan menunda…

Jangan menebak-nebak dan jangan ragu…

 Ketika ada kesempatan, ada dorongan, dan ada percikan naluriah dari dalam diri,..

Bertindaklah! Itulah tugas kita!

Dan hanya itu yang perlu kita lakukan!

*****

Memang sulit untuk diterima…

Namun beginilah adanya…

Cerita indah dari buku semesta hanyalah sebuah bayang semu…

Mimpi buruk yang telah dijauhkan sekuat tenaga adalah

sebuah fakta yang selalu ingin bersama…

Layaknya bidadari neraka yang selalu menggoda untuk bercinta…

*****

Tersentak kulihat sang surya…

Kilaunya jatuh di ujung peraduannya…

Sungguh indah melantunkan jingga…

Tanpa sengaja mataku melihat kilau yang lain…

Tersudut di ujung taman sana…

Sebuah bunga dengan pesonanya alaminya…

Penuh linangan cinta…

Ingin segera aku mendekatinya…

Merasakan hawa semerbak aromanya…

Dengan senyum dan tawa yang tertumpah…

Namun, sampai disini aku hanya bisa menduga-duga…

*****

Perjalanan waktu adalah bagaikan lantunan balada…

Dan kegelapan adalah roh…

… yang menyengat insting para pujangga…

Mempertanyakan otak kanan sebelum otak kiri…

Untuk mencercah awan putih, menyingkap langit biru…

Menghentak jiwa…

Memutar poros generator ambisi…

Leburkan semua cerita dalam danau misteri…

Yang riaknya seakan tak pernah berhenti…

*****

Putaran waktu telah menampakkan wujudnya…

Menuntun pikiran ke awan metafora yang indah…

Dibalik sisi gelap dan sisi terang ini…

Aku bukanlah pemain cinta…

Namun aku hanyalah pemujanya…

Seperti cintaku kepada-Nya….

*****

Ketenaran bukanlah tujuan…

Namun itu hanyalah sebuah pendukung tujuan…

*****

Sisi gelap dan terang diriku adalah sebuah romantika…

Yang terkadang bagaikan mawar merah yang tumbuh di kota utopis…

Dan terkadang bagaikan tatapan hantu di pesawangan…

Yang terkadang bagaikan lekuk indah tubuh bidadari surga…

Dan terkadang bagaikan sayatan biola di pekuburan…

Paduan sempurna suasana syahdu sekaligus mencekam…

*****

Pada hakikatnya kita adalah sama, Kawan…

Namun terkadang kesempatanlah yang membedakan…

Ketenaran berbalut keangkuhan bukanlah tujuan…

Kemewahan berbalut kemunafikan bukanlah itu yang dicari…

Hedonisme bukanlah apa-apa…

Itu hanyalah insting hewan…

Tetaplah bernyanyi dan berjuang, Kawan…

Teriakkan pada dunia bahwa kalian ada…

 

(Didedikasikan pada para Seniman Jalanan yang selalu menginspirasiku)

*****

Terserahlah apa kata sang waktu…

Cerita hari kemarin, sekarang, dan esok adalah romantika…

Aku hanya ingin memahami sesuatu dari sudut pandang berbeda…

*****

Siapa lagi yang akan memahami diri ini kalau kalau bukan kita sendiri?

Semakin kau memikirkan hal yang rendah dan tak berguna itu, semakin kau akan terpuruk dalam lumpur kerendah dirian…

Terhisap dalam pasir ketidak pastian….

Tenggelam dalam lamunan ombak keputus asaan…

Maka,

UBAHLAH SUDUT PANDANG TENTANG HIDUP DAN KEHIDUPAN INI…

UBAH SUDUT PANDANG TENTANG PERJALANAN DAN PENGALAMAN YANG SEDANG KAU LALUI HINGGA SAAT INI….

UBAHLAH SUDUT PANDANG TENTANG CERITA MASA LALU DAN MASA

SEKARANG…

BERSYUKUR DAN MINTALAH PETUNJUK KEPADA-NYA…

*****

“Keinginan adalah awal dari penderitaan.”

Tak dapat dipungkiri, kata-kata ini cukup bijak…

*****

Jika aku bisa menyesatkan pandangan…

Jika aku bisa menghembus awan perasaan…

Jika aku bisa menepis panah asmara, maka…

Biarkanlah mawar ini layu di tanganku…

*****

Fajar menyingsing di ufuk timur…

Seolah memanggil sang surya segera keluar dari peraduannya…

Menguapkan embun pagi yang dingin menusuk tulang…

Menyibak kabut pagi yang menghalang…

Haripun berganti…

Masa, ruang, dan waktu baru pun tercipta…

Walau hidup tak selamanya indah…

Namun cerita dan kisah harus terus mengalir mengisi labirin dunia…

Sejarah pun kadang-kadang terulang tercipta…

Dan pastinya setiap orang menginginkan kebaikan…

Sehingga, membuat sang surya bertanya…

“Kebaikankah yang membuat mereka bertahan?”

… atau,

“Apakah mereka yang mempertahankan kebaikan?”

*****

Ketika hedonisme merongrong idealismeku, jadilah aku pria yang menjual dunianya…

*****

Curahan ilmu pengetahuan ini sangat indah…

Namun aku terkadang seperti anak kecil yang masih suka

bermain hujan-hujanan…

Begitu hujan berhenti, hanya lumpur jalanan yang kudapat…

*****

Kulihat mereka…

Ah, semuanya sama…

Rata-rata mempunyai jalan pikiran yang sama…

Namun, ada seorang kawanku yang istimewa…

Cukup bijaksana menurutku…

Yang dengan lantang dia berkata…

“Lebih baik terasing daripada menyerah kepada kemunafikan…!”

*****

Ketika berbicara tentang eksistensi…

Yakinlah semuanya bisa…

Karena setiap orang adalah sosialis…

Seperti seorang Karl Marx…

Karena setiap orang adalah revolusioner…

Seperti seorang Vladimir Lenin…

Karena setiap orang adalah praktisi…

Seperti seorang George Stephenson…

Karena setiap orang adalah ilmuwan…

Seperti seorang Max Planck…

Karena setiap orang adalah engineer…

Seperti seorang Rudolf Diesel…

Karena setiap orang adalah diktator..

Seperti seorang Adolf Hitler…

Karena setiap orang adalah penulis…

Seperti seorang Ernest Hemingway…

Karena setiap orang adalah programmer…

Seperti seorang Mark Zuckerberg…

Karena setiap orang adalah musisi…

Seperti seorang Matthew Bellamy…

Karena setiap orang adalah pembunuh berdarah dingin…

Seperti seorang Charles Manson…

Karena setiap orang adalah penyair kebanci-bancian…

Seperti seorang Marylin Manson…

Karena setiap orang adalah Jackass…

Seperti seorang Jhonny Knoxville…

Yang mengatakan, “Biarkan aku berenang, menyelam, atau tenggelam dalam karya-karyaku…!”

*****

Dengan sedikit gontai, aku menuju sebuah pohon…

Mencari sedikit kerindangan…

Menghindari konsistensi panas sang surya…

Matahari pun berkata, “Sudahlah Kawan, revolusimu tidak akan bermakna, jika kau tidak ikhlas melakukannya…”

“Tapi tidak apa-apa Kawan”, ia melanjutkan…

“Ini hanyalah sebuah proses hidup”

Ah, betapa kata-kata makhluk itu sungguh bermakna…

Menyeretku dalam sebuah palung hati…

Mencairkan egoku…

Mentertawakan istana utopiaku…

Menguapkan euforia autisku…

Biarlah itu semua berlalu…

Aku tak sanggup menatap matahari, namun aku berkata,

“Matahari, tolong bakarlah semua kedangkalan pikiranku itu…!”

Aku tidak mendengar jawaban balasan dari sang surya, namun aku yakin ia mendengar permintaanku dan akan menyanggupinya…

*****

Kulihat siluet senja…

Temaram penuh tipu daya…

Antara ada dan tiada…

Denting dawai gitar merdu menyusup sukma…

Ya, antara ada dan tiada…

Dunia memang penuh warna…

Dan, sungguh naif…

Jika aku kembali menyangka dunia ini hanya terdiri dari satu warna…

… kelabu…

*****

Kupandangi langit sore…

Dibawah awan hitam berseling kilat jutaan volt…

Gemericik air hujan pun jatuh silih berganti…

Mendinginkan tanah yang gersang…

Sekuntum bunga langsung bersyukur pada Yang Kuasa…

Membalas, meniupkan hawa cinta…

Benar saja, mahkotanya segera mewarnai dunia…

Mewarnai dunia…

*****

*******

(Paradoks, Romantika, Alam, Waktu, Renungan, Cinta, Motivasi, Revolusi, Suasana Hati, Introspeksi, dan Syukur: Yogyakarta, 25 April 2011)

%d bloggers like this: