Archive for the Prose Category

“Badai Pesimisme” (Bagian II)

Posted in Philosophy, Prose, Puisi with tags , , on May 12, 2011 by Yul Prince Vartan Hyzhar

Seseorang datang dan bertanya, “Kemana perginya hangatnya mentari kehidupan?” Tidak ada satu pun makhluk yang menjawabnya. Namun, sudut matanya melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah bangunan seperti penjara. Dia melangkahkan kakinya menuju ke bangunan itu. Dia membuka pintu bangunan itu dengan susah payah. Begitu terbuka, tiba-tiba ia terkejut dan terpana untuk beberapa lama. Namun kemudian dia tersadar. Sungguh dia merasa senang sekarang. Sesuatu yang sedang dipertanyakannya berada di depan mata kepalanya sekarang.

Ya, matahari kehidupan telah dipenjarakan.

Ia kemudian sadar sesuatu yang jahat telah terjadi. Ia merasa sebuah kekuatan jahat sedang berusaha untuk mencengkram dunia yang terang. Sesuatu yang jahat sedang meneror dunia dengan terror kegelapan dan kebusukan. Sesuatu yang berusaha menghancurkan energi optimisme dengan energi pesimisme. Orang tersebut mengepalkan tinjunya ke angkasa dan berteriak, “Wahai siapapun adanya yang telah bertindak sebagai hantu kegelapan yang busuk, kembalikan matahari kehidupan ke atas dunia. Dunia orang-orang optimis!”

Suaranya mengalun sebentar, mengapung dan membuih, kemudian menghilang. Saat-saat berikutnya sama seperti saat pertama kali ia datang. Keheningan yang hebat di dalam aroma kegelapan. Udara dingin penuh kebencian datang diam-diam. Tiba-tiba badai pesimisme kembali dengan hebat menyerang. Menyapu dan menerjang. Mencabik dan menikam. Orang tersebut tertatih-tatih ingin menyelamatkan diri. Namun, ia tidak kalah cepat. Dan tampaknya ia tidak cukup siap dengan serangan badai yang kejam itu. Orang tersebut tidak bisa melawan. Tubuhnya tersapu dan terbanting. Sungguh myedihkan melihat kondisinya sekarang. Darah dan dagingnya berceceran. Nafasnya megap-megap. Ia mengalami sakaratul maut sebentar sebelum berpulang kepangkuan-Nya.

Ya, orang itu juga tidak bisa melawan. Mungkin hatinya juga kosong. Jiwanya mungkin juga rapuh. Sehingga badai pesimisme dengan mudah mengoyaknya.

Jogja, 26 April 2011

Advertisements
%d bloggers like this: