[Seri Akhir Zaman] Paradoks 2

Mendamba “Surga” Menuai “Neraka”

SIAPA yang tak mendambakan kehadiran keluarga yang harmonis dan romantis? Siapa yang tak ingin setiap waktu berlalu senantiasa dihiasi dengan rasa cinta dan kasih sayang? Siapa yang tak ingin bila ada problematika keluarga, langsung bisa diatasi dengan suasana cair dan bersahabat? Siapa yang tak mengharap bila ada api kemarahan yang membakar, langsung didapatkan kesejukan air yang memadamkan? Siapa yang tak ingin jika semua putra-putrinya menjadi penyejuk jiwa dan permata hatinya? Siapa yang tak harap jika semua anggota keluarganya menjadi ahlul Qurân ? siapa yang tak mendamba hadirnya sakinah-mawaddah-rohmah dalam hidupnya?

Tak diragukan lagi, siapa saja pasti mendambakan itu semua. Siapa saja pasti berharap suasana “surga dunia” ada di rumahnya. Namun, mungkinkah dan kapankah hal itu bisa terwujud? Bisa jadi upaya menggapai keharmonisan keluarga bak pungguk merindukan bulan –hanya sekedar impian kosong yang tak kunjung tiba-. Sebenarnya harapan itu semuanya  bukanlah khayalan dan fatamorgana. Bukan pula angan-angan autis yang jauh menerawang. Tidak perlu pula bersikap underestimate dalam upaya meraihnya.

Sungguh disayangkan, sebagaian besar orang berusaha untuk mewujudkan keluarga surgawi dengan cara bersungguh-sungguh dalam menumpuk kekayaan dunia yang fana, namun yang terjadi justru kebahagiaan keluarga sering menjadi “tumbal”. Hal ini dipicu karena adanya anggapan yang keliru bahwa kekayaan materi adalah kunci kebahagiaan keluarga. Padahal dalam kenyataan tidak demikian. Betapa banyak orang yang bergelimang harta namun keluarganya berantakan. Sebaliknya, tidak sedikit keluarga yang tak berkecukupan namun  rumah tangganya bernuansa “surga.”

Seringnya kita lalai bahwa ketinggian asa dan cita yang diharapkan haruslah diimbangi dengan besarnya usaha dan mujahadah untuk mewujudkannya. Sering kita berdoa : رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Namun sehari-hari keributan rumah tangga seakan-akan telah menjadi tradisi. Tidak ada yang salah dalam untaian doa itu, yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana kita berupaya merealisasikannya. Harapan untuk mendamba surga sering kali tak diiringi amalan-amalan surgawi, justru amalan yang terjadi adalah  bertolak belakang dengan cita-cita, maksud hati mendamba “rumahku surgaku” namun yang terjadi adalah “rumahku nerakaku” –wal’iyaadzu billah-.

Cinta berhias durhaka

Awal menjalin hubungan cinta merupakan garis start penentu arah dalam pembinaan rumah tangga. Akankah rumah tangga yang dibina menuju keridloan Allah ataukah kemurkaan-Nya. Namun sering kali awal permulaan ini dianggap bukan suatu hal yang penting dan sering kali diremehkan.

Sering kali kita dapati bahwa banyak yang menjalin cinta dengan cara pacaran. Bahkan di era globalisasi saat ini pacaran telah membudaya dan menjadi bagian hidup kaum muda. Tak ketinggalan pula kalangan orang tua juga turut berpartisipasi dalam memasyarakatkannya. Sering mereka latah dengan ungkapan Tanya kepada anak muda yang dijumpainya : “Sudah punya pacar apa belum?”.

Mereka berdalih bahwa pacaran adalah ajang untuk saling kenal dan memahami calon “pasangan”. Dengan pacaran, kadar kedalaman cinta “sang calon” bisa diukur dan diuji. Berangkat dari alasan inilah, kita dapati banyak kaula muda yang berpacaran sudah bertahun-tahun namun juga belum menikah.

Padahal, jika kita perhatikan dan amati, pacaran merupakan ajang saling menipu dan berbohong. Pacaran adalah sebuah dusta atas nama cinta. Bagaimana tidak? Hal itu bisa dibuktikan bahwa tatkala janjian kencan, masing-masing pihak berupaya untuk menghias diri dengan hiasan yang sebenarnya tidak mencerminkan jati dirinya yang sesungguhnya. Tidak jarang mereka memakai “topeng” dalam rangka menutupi kekurangan-kekurangan dirinya. Ditambah lagi, obral janji-janji kosong dan kata-kata manis yang sering menjadi hiasan pembicaraan ketika kencan.

Mereka pun beranggapan bahwa dengan pacaran pula kekurangan-kekurangan dari “sang calon” dan ketidak-cocokan darinya bisa terkuak. Padahal jika disadari, mana ada orang yang tidak memiliki kekurangan, mana ada orang tidak luput dari ketidak-cocokan dengan orang lain, apakah setiap orang dalam setiap saat bisa berserasi dengan yang lain? Tentu ini adalah perkara yang mengada-ada.

Tidak sadarkah mereka kalau pacaran adalah muqoddimah dari perbuatan zina? Tidakkah mereka sadar bahwa di saat berduaan maka syaithonlah yang menjadi teman mereka? Rosululloh -صلى الله عليه وسلم- bersabda :

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطُانُ

“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita melainkan pihak ketiganya adalah syaithon”. (HR. Tirmidzi)

Kalau syaithon telah menjadi pihak ketiga bagi mereka, lalu apa kiranya yang hendak ia sarankan untuk mereka yang sedang berduaan? Tidak lain dan tidak bukan adalah mengambil kesempatan untuk mengajak sesuatu yang “lebih berani” dari sekedar berduaan. Mulai dari kata-kata manis, berlanjut dengan saling bergandengan tangan, kemudian berpelukan, dan seterusnya. Hingga akhirnya mereka terbawa ke lumpur dosa zina. Oleh karenanya, Allah ta’ala telah mengharamkan segala perbuatan yang menjurus kepada zina dengan firman-Nya :

﴿وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا﴾

“Dan janganlah kalian mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (Al Isro’ : 32)
Hakikatnya semua yang dilakukan ketika pacaran adalah rangkaian zina yang diharamkan. Sebagaimana sabda Nabi -صلى الله عليه وسلم- :
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas anak adam bagian dari (dosa) zina, dirinya pasti mendapatinya, maka zinanya mata adalah memandang, zinanya lisan adalah berbicara, dan nafsu berangan-angan serta berkeinginan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya”. (HR. Bukhori)

Setelah keduanya bisa saling “menikmati”, ternyata belum tentu juga membawa jalinan cinta mereka menuju jenjang pernikahan. Bahkan ketika salah satu dari keduanya merasa bosan, maka dengan semena-menanya mencampakkan yang lain dan menganggap hubungan cinta di antara mereka berdua telah putus. Inilah kejahatan pacaran yang sesungguhnya.

Bagi mereka yang “berhasil” melanjutkan pacaran ke jenjang pernikahan beranggapan bahwa pernikahan yang mereka lalui dan kehidupan rumah tangga yang akan dijalani terasa semakin mesra dan harmonis. Padahal yang terjadi adalah rasa hambar dan kebosanan dikarenakan mereka telah bergaul sekian lama. Mereka memandang pasangan mereka tak ubahnya seperti teman sendiri yang telah dikenal.

Kalaupun mereka masih merasakan kemesraan, tentunya kemesraan yang dibangun atas dasar jasmani semata. Sementara ketika umur telah memudarkan kecantikan dan ketampanan mereka, saat itu pula benang-benang cinta pun mulai memudar. Inilah kemesraan yang semu.

Lebih dalam lagi, ketika kita menyadari, bahwa memulai rumah tangga dengan pacaran adalah seperti halnya memulai amalan yang mulia dengan amalan yang hina. Hakikatnya jalinan cinta ternodai dengan zina. Maka bagaimana mungkin sakinah-mawaddah dan rohmah akan senantiasa menghiasai rumah tangganya, sementara ibadah yang agung nan sakral diawali dengan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Sang Kholiq. Inilah cinta yang berhias durhaka. -wallaohul musta’aan-

Sayang tapi mencelakakan

Dalam kehidupan berumah tangga, terkadang kita terlalu berlebihan dalam mengungkapkan kasih sayang. Dalam ungkapan lain, sering kita berlaku sayang tidak pada tempatnya. Ungkapan sayang yang diberikan hanyalah kasih sayang yang semu.
Kasih sayang yang tidak berlandaskan ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya.

Hal itu nampak tatkala rasa sayang kita kepada istri atau sebaliknya kepada suami atau bisa juga kepada anak menjadi penghalang untuk menunaikan kewajiban dan menjalankan ketaatan. Sebagai contoh dalam hal ini adalah terkadang kita merasa iba dan belas kasihan kepada anggota keluarga untuk dibangunkan di penghujung malam (waktu shubuh) demi menjalankan perintah sholat.

Dalam kenyataan lain, ungkapan sayang yang memanjakan terkadang menjadikan diri kita orang yang lebih mencintai anggota keluarga kita dari pada cinta kepada Allah dan Rosul-Nya. Sementara Rosululloh -صلى الله عليه وسلم- bersabada berkenaan dengan karakteristik orang yang mendapat kesempurnaan iman dan kelezatannya :

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار

“Tiga perkara yang barang siapa tiga perkara ini ada padanya, ia mendapatkan manisnya iman : menjadikan Allah dan Rosul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya, mencintai seseorang karena Allah dan membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke neraka”. (HR. Bukhori)

Tidakkah kita teringat kepada peringatan Nabi Muhammad -صلى الله عليه وسلم- kepada sahabatnya yang mulia Umar bin Khotthob  -رضي الله عنه- tatkala beliau berkata : “Wahai Rosululloh, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku”. Lalu Nabi -صلى الله عليه وسلم- menjawab : “Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai dari pada dirimu”. Kemudian Umar  -رضي الله عنه- menjawab : “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri”. Nabi -صلى الله عليه وسلم- menimpali : “apakah baru sekarang, waha Umar?!” (HR. Bukhori)

Sering pula ungkapan sayang yang keluar dari diri kita terhadap salah satu anggota keluarga kita menjadi sebab masuk ke neraka. Sebagai contoh dalam masalah ini ketika kita memberikan kebebasan kepada istri untuk bersolek dan menampakkan keindahan tubuhnya kepada orang lain dengan berdalih bahwa apa yang dibebaskan adalah rasa kasih sayang kepada istri. Padahal bila dipikirkan sejenak, hal ini adalah bagian dari tindakan dayuts (tidak ada kecemburuan), sementara Rosululloh -صلى الله عليه وسلم- bersabda :

لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ دَيُّوْثٌ وَلاَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَلاَ رَجُلُةُ نِسَاءٍ

“Tidak masuk surga laki-laki dayuts, tidk pula para pecandu khomer dan tidak masuk surga pula wanita berperilaku laki-laki”. (HR. Abdur Rozaq)

Terkadang pula kita membiarkan anak gadis kita keluar rumah tanpa menutup aurat (tidak berjilbab). Berdalih sayang kepadanya karena ia masih muda dan ingin seperti teman sebayanya yang menikmati keceriaan usia remaja, sayang kalau nantinya ia tidak bisa bergaul sebagaimana temannya lain. Tentunya ini adalah kasih sayang yang menyesatkan, kasih sayang yang berujung pada murka Allah, karena telah meninggalkan perkara yang diwajibkan oleh Robb semesta Alam.

Kondisi yang lebih parah lagi tatkala kita menghalangi suami atau anak kita untuk bersama turut serta dalam amar ma’ruf-nahi munkar, berdalih dengan rasa sayang terhadap mereka agar mereka tidak mendapatkan resiko ataupun ancaman-ancaman buruk yang bisa menimpa mereka. Padahal rasa sayang seperti ini adalah bagian dari hembusan syaithon untuk menghalang-halangi seseorang memberikan loyalitas sepenuhnya kepada Allah dan Rosul-Nya.

Hendaknya kita menauladani sosok wanita mulia yang bernama Khonsa’  -رضي الله عنه- yang dengan rasa kasih sayangnya, beliau telah berhasil menghantarkan putra-putranya meraih gelar syuhada’ dalam peperangan Qodisiyah. Tatkala berita gugurnya keempat anaknya sampai ke telinga Khonsa’, ia justru berucap; “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya”.(Al Istî’â fî ma’rifatil ashĥâb, juz 2 hal 90-91)

Demikianlah kasih sayang yang sesunguhngya. Kasih sayang yang mengungkapkan ketidak-relaan jika anggota keluarganya keluar dari ketaatan menuju kemaksiatan. Bukan dikatakan sayang, jika akhirnya berujung pada murka Allah dan jilatan panas api neraka.

Mendidik tapi sering menghardik

Tidak dipungkiri bahwa pendidikan keluarga merupakan instrument terpenting dalam mewujudkan “rumahku surgaku”. Orang tua dalam hal ini memiliki peranan sentral dalam membentuk kepribadian putra-putrinya menjadi pribadi-pribadi mukmin-mukminah yang berkarakter.

Namun sering pula langkah dan usaha kita dalam mendidik mereka bertolak belakang dengan cita-cita yang didamba. Sering kali orang tua hanya bisa menuntut kebaktian sang anak, namun belum pernah ia sampaikan makna berbakti. Sering pula orang tua menuntut untuk ditaati, namun sering pula mereka mengajarkan untuk saling mengkhianati. Sering pula berdalih mendidik, namun hakikatnya hanya sekedar menghardik. Sering pula menuntut ketaatan, namun belum pernah memberikan tauladan.

Sering kali kita mengharap istri kita sholihah, namun tak pernah kita ajarkan hakikat syahadat. Sering pula kita mendamba suami yang ‘alim dan bisa menjadi pembimbing keluarga, namun yang terjadi justru disibukkan dengan tuntutan materi sehingga nyaris tidak ada waktu untuk tholabul ‘ilmi. Sering pula kita mengharap anak-anak pandai mengaji dan menjadi ahlul qurân, namun seringnya kita bekali mereka dengan music dan kebendaan.

Dalam kenyataannya, banyak di kalangan kita yang lebih bangga kalau anaknya jago matematika meskipun tidak bisa membaca Al Qurân. Terkadang pula kita lebih memprioritaskan pendidikan umum dari pada pendidikan agama. Padahal, jika diamati dan diperhatikan pendidikan agama jauh lebih penting dari pada sekedar pendidikan umum yang hanya bersifat lifeskill atau hanya wawasan intelektualitas semata. Karena sesungguhnya pembangunan karakter dan kepribadian baik adalah bersumber dari pendidikan agama.

Betapa banyak contoh di masyarakat yang memiliki IQ tinggi dan  berprestasi dalam akdemiknya namun berkarakter dan berkepribadian lemah. Sehingga mudah sekali tergelincir dalam kemaksiatan. Hal itu diakibatkan lemahnya tarbiyah rûhiyah yang menjadi penompang akhlaq sekaligus menjadi penimbang baik-buruknya suatu perbuatan.

Dengan mendidik anggota keluarga, diharapkan agar mereka mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajiban setiap individu. Sehingga terciptanya suasana yang menjunjung tinggi hak-hak orang lain. Dengan demikian, interaksi dalam internal keluarga berjalan dengan baik.

Dari sini, sudah bisa dipastikan bahwa pembentukan angota keluarga yang berkarakter mukmin-mukminah menjadi dasar dari terwujudnya baiti jannati. Tanpa tarbiyah keluarga rasanya impian menghadirkan sakinah-mawaddah-rohmah adalah menjadi impian kosong. Tanpany pula, dambaan hadirnya kerdihoan Ar Rohman di tengah kehidupan berumah tangga berubah menjadi laknat, keharmonisan berubah menjadi pertikaian dan bisa jadi harapan mendapat surga berubah menjadi ancaman siksa neraka –wal’iyâdzu billah-

Semoga Allah ta’ala memberikan taufiq dan hidayah-Nya agar kita bisa memikul tanggung jawab membina keluarga menjadi keluarga berkarakter Islam. Wallohu a’lam.

***

Sumber: Islampos.com

Akhir-Zaman-copy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: