[Seri Akhir Zaman] Paradoks 1

Paradoks dan Neraca Akhir Zaman

SAHABATKU Fiddin, kita benar-benar hidup di akhir zaman. Ada dua hal yang menonjol di akhir zaman ini. Pertama, semua hal sdudah jadi paradoks. Kedua, neraca sudah terbalik.

Paradoks dapat kita lihat dalam banyak hal. Antara keyakinan/iman/niat dan amal perbuatan. Antara keinginan dan upaya. Antara doa dan ikhtiyar. Ingin masuk syurga, tapi keyakinan atau amal perbuatannya (keyakinan/amal) penghuni neraka.

Mengaku Tuhannya Allah, tapi menyekutukan-Nya dengan berbagai tuhan tandingan lainnya. Mengaku mencintai Allah dan Rasulullah, tapi durhaka atau tidak taat pada-Nya dan Rasul-Nya.

Mengaku Kitab Petunjuknya Al-Qur’an, tapi tidak dibaca, tidak dipahami dan tidak diamalkan.Mengaku beragama Islam, tapi jalan hidup yang tempuh jalan Yahudi atau agama lainnya, dan tak jarang pula ikut menyerang dan memarjinalkan Islam dan umatnya. Mengaku jadi Da’i (juru dakwah), tapi mengajak manusia ke neraka.

Mengaku muslim, tapi tidak shalat fardhu dan tidak juga mengamalkan kewajiban-kewajiban Islam lainnya. Mengaku mukmin, tapi ucapan dan perbuatannya menyakiti saudara Mukmin lainnya, dan bahkan membunuhnya tanpa jalan yang hak.

Demikian juga di akhir zaman ini neraca sudah terbalik. Yang hak bisa jadi batil. Yang batil bisa jadi hak. Yang halal sudah jadi haram. Yang haram sudah jadi halal. Yang baik bisa jadi buruk. Yang buruk sudah jadi kebaikan. Suami jadi istri. Istri jadi suami. Anak sudah jadi bos orang tua. Orang tua sudah jadi pembantu anak.

Di akhir zaman ini, kemuliaan tidak lagi didasari iman, ilmu dan taqwa, namun diukur dengan harta, pangkat, ketampanan maupun kecantikan dan jumlah pengikut. Yang kaya sudah jadi pelit. Yang miskin menjadi sombong. Yang berilmu sudah jadi tinggi diri. Yang bodoh merasa banyak ilmu.

Kaum cerdik pandai sudah jadi tukang tipu. Pemimpin atau penguasa sudah jadi raja dan tak jarang mengaku sebagai Tuhan, kendati tidak diucapkan sebagaimana Fir’aun dahulu, yang setiap saat harus ditaati, kendati bertentangan dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Allahul musta’an.

Yaa Rabb, janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau anugerahkan pada kami petunjuk-Mu dan anugerahkan pula pada kami dari sisi-Mu Rahmah (Kasih Sayang-Mu) serta berikanlah kepada kami kecerdasan dalam menjalankan kehidupan yang sementara ini.

***

Sumber: Islampos.com

renunganpsd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: