Paradoks 1

*****************************************************

paradox 

*****************************************************

Barangkali aku sudah banyak belajar…

Namun, sayangnya aku tidak selalu mengembangkan…

Dan, disanalah kebenaran tertahan…

 

Aku sadar itu bukanlah suratan takdir…

Bukan juga sebuah fenomena alam…

Aku memang tidak pernah mempercayainya…

Namun, iblis membuat mataku seolah-olah tertutup…

Langit biru nan cerah sedang menantiku…

Namun, aku pergi menjelajah ke dalam dunia yang lebih gelap…

Hembusan lembut angin pantai menunggu untuk membelaiku…

Namun, aku berenang dalam pusaran banjir sampah nafsu sesaat…

Oh,… begitu menggiurkan…

Namun, ia tak pernah bisa melepas dahaga…

Di saat akar kebutuhan sudah tumbuh dan berkembang jauh…

Aku masih terperangkap oleh hal-hal berderajat rendah…

Oh, betapa perjuangan yang sering naïf dan tidak relevan…

Pencerahan sistem individu dan sistem sosial yang mengabur dan menguap…

Karena sisi iblis telah mencabik efisiensi kehendakku…

Pencerahan terhadap kebenaran yang dikotori oleh sampah hedonisme…

Pencerahan terhadap kebenaran yang dinodai kapitalisme…

Pencerahan terhadap kebenaran yang dicederai konsumerisme…

Pencerahan terhadap kebenaran yang dibodohi apatisme…

Pencerahan terhadap kebenaran yang diperkosa libidoisme…

Oh, betapa definisi kebenaran yang menjadi kabur…

Padahal kita semua sedang dinanti kubur…

Oh, dimanakah udara segar itu, Kawan?

Oh, betapa kontradiksi antara malaikat dan iblis yang tidak menyenangkan…

Pengejawantahan dari beberapa paradoks yang ganjil…

Seperti persepsi yang saling mempengaruhi dan menekan…

Malaikat berkata, “Malulah kalian karena malu itu sebagian dari iman”

Sementara iblis berkata, “Jangan terlalu perturutkan rasa malu kalian karena itu malu itu kemalangan… Hahaha!”

 

Barangkali aku sudah banyak belajar…

Namun, sayangnya aku tidak selalu mengembangkan…

Dan, disanalah kebenaran tertahan…

Apakah kekuasan kehendakku telah dikuasai oleh oleh kekuasan kebutuhanku?

Ah, aku masih mencari jawabannya, Kawan…

*******

 

Puisi ini sebagai sebuah hadiah ulang tahun dariku untuk diriku dan orang-orang terdekatku

(Paradoks, Renungan, dan Introspeksi, : Yogyakarta, 21 Maret 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: