Dibuai Syair-syair Penumpul Logika

**********************************************************

tinta cinta 

**********************************************************

Diluar sangat keras, Kawan!

Aku tahu pasti itu…

Dan itulah yang kukatakan padamu…

Kehidupan diluar sangat keras, Kawan!

Aku sadar betul akan hal itu…

Dan itulah yang kusampaikan padamu…

Namun, mengapa aku sendiri masih dibuai syair-syair melankolis itu?

Padahal aku tahu, syair-syair itu hanya menumpulkan logikaku…

Mengeringkan darah dan memucatkan wajahku…

Mengurangi gerak laju langkahku…

Menenggelamkanku dalam suasana hati yang berdebu…

Mengaburkan siapa diriku yang sebenarnya…

Mengerem setiap hasrat yang ingin melaju kencang…

Bahkan aku seperti terlalu lemah untuk membuat lompatan yang paling kecil sekali pun…

Oh, betapa rusaknya kemampuan terbangku…

… karena sayap-sayapku telah rapuh dan patah berkeping-keping…

Oh, betapa rusaknya kemampuan terbangku…

… karena aku masih dibuai syair-syair penumpul logika…

*******

 

(Renungan, Labil, Logika, dan Introspeksi: Kamang Hilir, 19 Desember 2012) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: