Paradoks, Romantika, dan Selingan (Intro)

**********************************************************

square-paradox

*****

Jika kau menanyakan padaku hal apa yang paling sukar kutaklukkan, jawabannya adalah diriku sendiri.

*****

Kemenangan sistem kehidupan yang kau lalui pada hakikatnya adalah kemenangan sistem spiritualitas dirimu sendiri.

*****

Kebosanan itu terkadang lebih kejam dari penderitaan fisik. Bahkan kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mulia itu ditelan oleh kebosanan.  Bahkan pekerjaan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mulia itu hancur oleh tirani kebosanan.

*****

Semesta mempunyai kecepatan…

Jangan menunda…

Jangan menebak-nebak dan jangan ragu…

 Ketika ada kesempatan, ada dorongan, dan ada percikan naluriah dari dalam diri,..

Bertindaklah! Itulah tugas kita!

Dan hanya itu yang perlu kita lakukan!

*****

Memang sulit untuk diterima…

Namun beginilah adanya…

Cerita indah dari buku semesta hanyalah sebuah bayang semu…

Mimpi buruk yang telah dijauhkan sekuat tenaga adalah

sebuah fakta yang selalu ingin bersama…

Layaknya bidadari neraka yang selalu menggoda untuk bercinta…

*****

Tersentak kulihat sang surya…

Kilaunya jatuh di ujung peraduannya…

Sungguh indah melantunkan jingga…

Tanpa sengaja mataku melihat kilau yang lain…

Tersudut di ujung taman sana…

Sebuah bunga dengan pesonanya alaminya…

Penuh linangan cinta…

Ingin segera aku mendekatinya…

Merasakan hawa semerbak aromanya…

Dengan senyum dan tawa yang tertumpah…

Namun, sampai disini aku hanya bisa menduga-duga…

*****

Perjalanan waktu adalah bagaikan lantunan balada…

Dan kegelapan adalah roh…

… yang menyengat insting para pujangga…

Mempertanyakan otak kanan sebelum otak kiri…

Untuk mencercah awan putih, menyingkap langit biru…

Menghentak jiwa…

Memutar poros generator ambisi…

Leburkan semua cerita dalam danau misteri…

Yang riaknya seakan tak pernah berhenti…

*****

Putaran waktu telah menampakkan wujudnya…

Menuntun pikiran ke awan metafora yang indah…

Dibalik sisi gelap dan sisi terang ini…

Aku bukanlah pemain cinta…

Namun aku hanyalah pemujanya…

Seperti cintaku kepada-Nya….

*****

Ketenaran bukanlah tujuan…

Namun itu hanyalah sebuah pendukung tujuan…

*****

Sisi gelap dan terang diriku adalah sebuah romantika…

Yang terkadang bagaikan mawar merah yang tumbuh di kota utopis…

Dan terkadang bagaikan tatapan hantu di pesawangan…

Yang terkadang bagaikan lekuk indah tubuh bidadari surga…

Dan terkadang bagaikan sayatan biola di pekuburan…

Paduan sempurna suasana syahdu sekaligus mencekam…

*****

Pada hakikatnya kita adalah sama, Kawan…

Namun terkadang kesempatanlah yang membedakan…

Ketenaran berbalut keangkuhan bukanlah tujuan…

Kemewahan berbalut kemunafikan bukanlah itu yang dicari…

Hedonisme bukanlah apa-apa…

Itu hanyalah insting hewan…

Tetaplah bernyanyi dan berjuang, Kawan…

Teriakkan pada dunia bahwa kalian ada…

 

(Didedikasikan pada para Seniman Jalanan yang selalu menginspirasiku)

*****

Terserahlah apa kata sang waktu…

Cerita hari kemarin, sekarang, dan esok adalah romantika…

Aku hanya ingin memahami sesuatu dari sudut pandang berbeda…

*****

Siapa lagi yang akan memahami diri ini kalau kalau bukan kita sendiri?

Semakin kau memikirkan hal yang rendah dan tak berguna itu, semakin kau akan terpuruk dalam lumpur kerendah dirian…

Terhisap dalam pasir ketidak pastian….

Tenggelam dalam lamunan ombak keputus asaan…

Maka,

UBAHLAH SUDUT PANDANG TENTANG HIDUP DAN KEHIDUPAN INI…

UBAH SUDUT PANDANG TENTANG PERJALANAN DAN PENGALAMAN YANG SEDANG KAU LALUI HINGGA SAAT INI….

UBAHLAH SUDUT PANDANG TENTANG CERITA MASA LALU DAN MASA

SEKARANG…

BERSYUKUR DAN MINTALAH PETUNJUK KEPADA-NYA…

*****

“Keinginan adalah awal dari penderitaan.”

Tak dapat dipungkiri, kata-kata ini cukup bijak…

*****

Jika aku bisa menyesatkan pandangan…

Jika aku bisa menghembus awan perasaan…

Jika aku bisa menepis panah asmara, maka…

Biarkanlah mawar ini layu di tanganku…

*****

Fajar menyingsing di ufuk timur…

Seolah memanggil sang surya segera keluar dari peraduannya…

Menguapkan embun pagi yang dingin menusuk tulang…

Menyibak kabut pagi yang menghalang…

Haripun berganti…

Masa, ruang, dan waktu baru pun tercipta…

Walau hidup tak selamanya indah…

Namun cerita dan kisah harus terus mengalir mengisi labirin dunia…

Sejarah pun kadang-kadang terulang tercipta…

Dan pastinya setiap orang menginginkan kebaikan…

Sehingga, membuat sang surya bertanya…

“Kebaikankah yang membuat mereka bertahan?”

… atau,

“Apakah mereka yang mempertahankan kebaikan?”

*****

Ketika hedonisme merongrong idealismeku, jadilah aku pria yang menjual dunianya…

*****

Curahan ilmu pengetahuan ini sangat indah…

Namun aku terkadang seperti anak kecil yang masih suka

bermain hujan-hujanan…

Begitu hujan berhenti, hanya lumpur jalanan yang kudapat…

*****

Kulihat mereka…

Ah, semuanya sama…

Rata-rata mempunyai jalan pikiran yang sama…

Namun, ada seorang kawanku yang istimewa…

Cukup bijaksana menurutku…

Yang dengan lantang dia berkata…

“Lebih baik terasing daripada menyerah kepada kemunafikan…!”

*****

Ketika berbicara tentang eksistensi…

Yakinlah semuanya bisa…

Karena setiap orang adalah sosialis…

Seperti seorang Karl Marx…

Karena setiap orang adalah revolusioner…

Seperti seorang Vladimir Lenin…

Karena setiap orang adalah praktisi…

Seperti seorang George Stephenson…

Karena setiap orang adalah ilmuwan…

Seperti seorang Max Planck…

Karena setiap orang adalah engineer…

Seperti seorang Rudolf Diesel…

Karena setiap orang adalah diktator..

Seperti seorang Adolf Hitler…

Karena setiap orang adalah penulis…

Seperti seorang Ernest Hemingway…

Karena setiap orang adalah programmer…

Seperti seorang Mark Zuckerberg…

Karena setiap orang adalah musisi…

Seperti seorang Matthew Bellamy…

Karena setiap orang adalah pembunuh berdarah dingin…

Seperti seorang Charles Manson…

Karena setiap orang adalah penyair kebanci-bancian…

Seperti seorang Marylin Manson…

Karena setiap orang adalah Jackass…

Seperti seorang Jhonny Knoxville…

Yang mengatakan, “Biarkan aku berenang, menyelam, atau tenggelam dalam karya-karyaku…!”

*****

Dengan sedikit gontai, aku menuju sebuah pohon…

Mencari sedikit kerindangan…

Menghindari konsistensi panas sang surya…

Matahari pun berkata, “Sudahlah Kawan, revolusimu tidak akan bermakna, jika kau tidak ikhlas melakukannya…”

“Tapi tidak apa-apa Kawan”, ia melanjutkan…

“Ini hanyalah sebuah proses hidup”

Ah, betapa kata-kata makhluk itu sungguh bermakna…

Menyeretku dalam sebuah palung hati…

Mencairkan egoku…

Mentertawakan istana utopiaku…

Menguapkan euforia autisku…

Biarlah itu semua berlalu…

Aku tak sanggup menatap matahari, namun aku berkata,

“Matahari, tolong bakarlah semua kedangkalan pikiranku itu…!”

Aku tidak mendengar jawaban balasan dari sang surya, namun aku yakin ia mendengar permintaanku dan akan menyanggupinya…

*****

Kulihat siluet senja…

Temaram penuh tipu daya…

Antara ada dan tiada…

Denting dawai gitar merdu menyusup sukma…

Ya, antara ada dan tiada…

Dunia memang penuh warna…

Dan, sungguh naif…

Jika aku kembali menyangka dunia ini hanya terdiri dari satu warna…

… kelabu…

*****

Kupandangi langit sore…

Dibawah awan hitam berseling kilat jutaan volt…

Gemericik air hujan pun jatuh silih berganti…

Mendinginkan tanah yang gersang…

Sekuntum bunga langsung bersyukur pada Yang Kuasa…

Membalas, meniupkan hawa cinta…

Benar saja, mahkotanya segera mewarnai dunia…

Mewarnai dunia…

*****

*******

(Paradoks, Romantika, Alam, Waktu, Renungan, Cinta, Motivasi, Revolusi, Suasana Hati, Introspeksi, dan Syukur: Yogyakarta, 25 April 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: