From Lost Angels to Borobudur (The Memorial Stones)

Untuk pertama kalinya aku mengadakan perjalanan wisata setelah sekian lama terbenam dalam kegiatan-kegiatan akademik dan kegiatan ‘autis’-ku. Setelah hampir lima bulan berada di Jogja, aku mendapat sedikit ‘angin segar’ pada liburan trisemester satu ini. Aku sebelumnya telah menjadwalkan beberapa kegiatan untukmengisi hari-hari libur ini. Salah satunya yaitu mengadakan perjalanan wisata atau bahasa gaulnya refreshing ke Candi Borobudur. Sebenarnya banyak tempat-tempat menarik yang dapat dikunjungi di Jogja ini. Namun untuk saat ini, cukuplah dulu Candi Borobudur yang kukunjungi.
Untunglah, aku mempunyai seorang teman sekampung yang sangat pengertian dan sangat ‘seiya sekata’ denganku.

Gambar 1. Foto Nul saudara sekampungku

Adalah Nul yang kuakui telah menjadi ‘pahlawan’-ku selama menjejakkan kaki ditempat-tempat baru di kota ini. Sudah tidak terhitung berapa banyak bantuan yang telah diberikan Nul kepadaku. Mungkin status sebagai sama-sama mahasiswa perantauan yang dari kampung yang sama, Ranah Minang, membuat rasa persaudaraan di dalam diri kami sangat kental. Dan rasa itu sugguh tidak dapat digantikan oleh materi berapapun juga.
Dan ketika kukatakan bahwa aku ingin refreshing ke Borobudur, Nul dengan senang hati bersedia menemani dan mengantarkanku ke salah satu tempat wisata paling favorit di Jawa Tengah itu.
Pukul 8 pagi.
Sebelum kami memulai perjalanan, kami sarapan dulu di tempat mbok penjual goreng-gorengan di tepi jalan. Setelah puas mengisi ‘tanki’ masing-masing, kami langsung memulai perjalanan. Sebelumnya Nul telah ‘tukar pakai’ sepeda motornya dengan sepeda motor temannya. Nul mengatakan bahwa sepeda motornya sudah terlalu ‘uzur’ untuk menempuh perjalanan jauh.
Nul mengaku telah pergi ke Borobudur lima kali, namun ia belum pernah menempuh dengan sepeda motor. Tidak kusangka-sangka, Nul sangat gesit mengendarai sepeda motornya. Aku yang berboncengan di belakang dapat melihat dengan jelas speedometer rata-rata menunjuk pada kisaran 80 km/jam! Dalam hati aku hanya bisa berdoa, agar perjalanan ini selamat saja sampai tujuan. Jujur saja, perjalanan berboncengan ke Borobudur dengan Nul saat itu adalah sebuah pengalaman ‘sport jantung’.

Gambar 2. Pin ‘I love sport’
Berbicara mengenai kemampuan mengemudikan kendaraan, ada sedikit rasa iri terhadap kemampuan saudara sekampungku ini. Bukan terhadap dia saja, namun juga terhadap teman-teman sebayaku lain yang mempunyai kemampuan setara. Sudah punya SIM A dan C, kemampuan mengemudi yang handal di segala medan dan suasana, serta punya kendaraan sendiri. Sedangkan aku, jujur saja mempunyai beberapa reputasi yang buruk di jalan raya. Aku teringat kejadian beberapa tahun yang lalu dimana gigi seri-ku bisa patah hanya gara-gara bersepeda saja, menabrak mobil orang dari belakang lagi! Hahaha. Menyedihkan.
Kami sampai di Borobudur setelah sekitar satu jam lebih ‘melesat’ di jalan raya.
Begitu sampai disana, kami harus memarkirkan sepeda motor dahulu. Sampai saat itu Candi Borobudur itu masih belum tampak batang hidungnya. Aku celingak-celinguk mencari-cari dimana letak candi itu. Setelah Nul mengatakan bahwa kita masih harus berjalan kaki sekian ratus meter untuk dapat sampai kesana, barulah aku manggut-manggut mengerti.
Kami membeli tiket pada loket masuk yang bertarif 15 ribu untuk orang dewasa. Ketika melewati pos pemeriksaan barang-barang bawaan, aku terpaksa menitipkan roti tawar yang baru kubeli karena makanan tidak diizinkan masuk ke dalam tempat wisata.
Setelah menempuh perjalanan ke candi yang disekelilingnya adalah padang rumput dan taman-taman yang indah, akhirnya sayapun untuk pertama kalinya melihat dan menjejajakkan kaki pada susunan batu-batu Borobudur yang sangat terkenala di seantero dunia itu.

Gambar 3. Foto awal kedatanganku ke Borobudur
Ada kekakaguman yang luar biasa yang muncul dari dalam diriku seketika. Membayangkan bagaimana keteguhan hati para pendiri candi untuk memahat batu-batu alam untuk dicadikan sebuah candi raksasa sungguh sebuah perjuangan yang sangat luar biasa. Pada masa pembagunan candi itu, peradaban dunia belum mengenal namanya semen. Namun nenek moyang kita memang jenius. Untuk menyusun potongan-potongan batu itu menjadi sebuah tumpukan besar dan tinggi bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Batu-batu alam itu langsung dipotong dengan ukuran-ukuran tertentu. Ternyata rahasia untuk menyatukan batu-batu yang telah dipotong tersebut adalah dengan menambahkan pembuatan pahatan semacam pasak yang nantinya dapat dipasangkan seperti hubungan ‘jantan dan betina’ pada masing-masing tumpukan batu. Memang ada juga beberapa batu yang tidak memiliki pasak dan hanya ditumpuk pada dudukan batu-batu lain yang lebih kokoh.

Gambar 4. Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia
Ketika itu kami sengaja pergi pada hari-hari diluar jadwal liburan, dan hari masih pagi sehingga para wisatawan lain belum banyak yang datang. Kamipun berkeliling candi yang pada dasarnya aku sedang mencari posisi-posisi yang ‘strategis’ untuk mengambil gambar diriku atau berfoto narsis.

Gambar 5. Stone, narciss cowboy, and stone again.
Begitu sampai di pelataran stupa yang paling atas, aku segera ingin memanjatnya untuk berfoto ria. Tiba-tiba terdengar teriakan: “Bagi para pengunjung candi Borobudur , tidak dibolehkan memanjat candi. Baik untuk mengambil gambar atau sekedar befoto. Kami ulangi, bagi para pengunjung candi Borobudur, tidak dibolehkan memanjat candi. Baik untuk mengambil gambar atau sekedar befoto.” Itu adalah suara petugas candi yang disalurkan melalui empat buat toa dipasang pada sebuah menara. Namun, rasanya tetap kurang afdal jika aku sampai melewatkan kesempatan berfoto narsis pada stupa tersebut. Aku dan Nul mengelilingi stupa tersebut, mencari posisi yang lebih lengang. Akhirnya, pada suatu keliling yang cukup lengang, segera aku mengambil sebuah foto narsis. Nul menjepretku dengan kameranya! Yup! Pada saat aku ingin mengambil foto yang kedua, barulah ada sebuah teguran dari seorang pemandu wisata yang kebetulan melintas untuk memandu sebuah rombongan turis. Pose narsis yang sudah kubuat jadi berantakan. Karena terlanjur telah memanjat stupa, aku merasa sayang untuk segera turun sebelum mengambil sebuah gambar lagi. Dalam hati aku berkata: Sorry Pak, tanggung! Dengan ‘seadanya’, foto keduaku akhirnya jadi juga.

Gambar 6. Foto setengah hati
Setelah puas berkeliling candi, kami melanjutkan perjalanan melihat museum kapal Samuderaksa. Kondisinya jauh berbeda dengan kondisi candi. Kalau sebelumnya di candi kami berpanas-panas ria dan sesekali disesaki oleh turis-turis mancanegara, di museum kapal tersebut justru sebaliknya. Suasananya sangat adem dengan beberapa kipas angin yang terpasang pada atap dan nyaris tanpa pengunjung. Hanya sepasang suami istri yang kami temui. Tepat pada bangunan tempat menyimpan badan asli kapal Samuderaksa tersebut aku merasa sedikit kecut. Bagaimana tidak. Didalam bangunan yang begitu luas itu, hanya aku satu-satunya pengunjung. Suasananya sangat lengang sehingga terasa sedikit mencekam. Untunglah saat itu tengah hari.

Gambar 7. Suasana lengang mencekam di kamar Samuderaksa
Sementara Nul sebelumnya masih sibuk menelpon Long Distance Relatonship (LDR)-nya. Dihadapanku, bagaikan raksasa, kapal Samuderaksa berbaring didepanku. Perahu tradisional yang merupakan tiruan ulang dari rancangan asli nenek moyang kita itu sebelumnnya telah menempuk perjalanan melintasi samudera. Bahkan telah sampai ke Pelabuhan Cape Town di Afrika Selatan sana. Aku pun mengambil beberapa gambar perahu tradisional nan perkasa itu. Aku melihat galeri-galeri di dalam bangunan tersebut. Semua galeri tersebut memajang dan menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘kisah’ sang kapal.
Sebenarnya ada dua museum, namun hanya museum kapal Samuderaksa inilah yang hanya kumasuki. Sementara museum yang lainnya, kami malas memasukinya karena diharuskan membeli tiket lagi. Walaupun tidak mahal, hanya tiga ribu lima ratus per orang, namun kami sudah tidak ingin membeli dan membayar tiket lagi. Katanya didalam museum tersebut ada manusia terpendek setinggi 65 cm. Ah, kalau itu sih aku sudah sering melihatnya di televisi Pak. Jangan-jangan mereka hanya menyewa Ucok Baba untuk ditempatkan di dalam museum itu. Hahaha.

Gambar 8. Ucok Baba ketika menginjak remaja
Merasa tidak ada lagi objek yang perlu dikunjungi di kawasan candi Borobudur tersebut, kami memutuskan untuk segera pulang. Ditengah perjalanan keluar kami langsung jadi incaran dua penjual souvenir. Penjual pertama menawarkan aneka asbak dan gantungan kunci bernuansa candi Borobodur kepadaku, namun bahannya kurang menarik perhatianku. Penjual yang kedua pun datang menghampiriku menawarkan barang yang sama namun berbeda bahan. Aku tertarik souvenir gantungan kunci yang ditawarkan penjual kedua. Gantungan kunci yang maianannya miniature candi Borobudur dalam limas kaca itu sangat cantik sekali. Dia menawarkannya seharga tujuh ribu lima ratus rupiah perbiji. Karena tertarik, aku langsung menawarnya sepuluh ribu rupiah dua buah. Dia langsung menyetujui. Aku bermaksud memberikan sebuah gantungan kunci tersebut nantinya kepada orang-orang terdekatku. Hehehe…siapa ya?
Penjual yang pertama seperti tidak mau kalah, langsung memberondongku dengan dagangannya. Berbagai bujuka ia kelurkan. Kalau tidak ada empat macam panggilan yang ia katakan padaku. Dari Mas menjadi Pak. Dari Pak menjadi Bang. Dari Bang manjadi Bos. Hahaha. Aku katakan bahwa aku barusan saja sudah membeli suvernir. Namun ia terus berkicau yang aku sudah tidak dengarkan lagi. Akhirnya dengan suara sedikit memelas dia berkata, ”Lima ribu aja dua buah Bos. Ini sebagai dagangan pembuka saja Bos karena belum terjual dari pagi.” Akupun luluh, tidak tega juga rasanya melihat sang penjual souvenir itu pontang-panting mencari nafkah seperti itu. Kupandangi diriku. Ah, bagaimana kalau aku berada pada posisinya. Hati kecilku selalu sensitive untuk dapat membantu orang-orang disekelilingku, berapapun besarnya bantuan itu. Namun, setelah itu aku berjanji tidak membeli souvenir lagi.
Bagaimana dengan Nul? Ternyata urusan LDR-nya telah menyelamatkannya. Para penjual souvenir tersebut juga seperti tahu diri untuk tidak mengganggu urusan rumah tangga orang lain.
Selepas dari pintu exit, kami seperti langsung diuber-uber oleh penjual souvenir yang lain. Kami seperti sedang menjadi ‘artis dadakan’ seperti yang sedang diuber-uber paparazzi. Namun, aku sudah tidak akan membeli souvenir lagi. Ketika melewati kompleks penjual pakaian khas Borobudur, secara tidak sengaja mataku melirik sepotong baju kaus oblong warna hitam. Yang menarik bagiku mengenai kaos oblong itu adalah gambar depannya yang menampilkan kata-kata ‘Superman is Dead’, sebuah band punk favoritku dari Bali. Kaos tersebut semakin sangar dengan tampilan gambar sebuah tengkorak manusia ditengahnya. Cukup murah karena aku berhasil menawarnya dari dua puluh lima ribu rupiah menjadi dua belas ribu saja.

Gambar 10. Personal Superman Is Dead
Pukul 01.30 siang.
Kami sampai kembali ditempat kosku. Nul yang telah teler berat langsung terkapar ditempat tidurku. Malam sebelumnya ia kurang tidur gara-gara menonton pertandingan Liga Champions fase knock-out antara AC Milan versus Manchester United. Sementara aku langsung meraih kamera Nul, meng-copy paste foto-foto yang telah kami ambil tadi. Folder nya aku beri nama ‘From Lost Angels to Borobudur (The Memorial Stones).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: